Sebuah perjalanan cinta [part1]…
Catatan Harian Tagged andri, bunda 6 Comments »BismiLLahi aRRohman aRRohim…
Ya! Perjalanan kali ini masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya. (jangan kaget kalau nanti tulisan ini akan sangat panjaaaaang) 
Berawal dari sebuah berita yang dikabarkan oleh mbak Vit melalui telephone, kebetulan waktu itu (Selasa, 10/03/09 pukul 18:10) ãñÐrî baru pulang dari kantor (yang seharusnya sudah pulang jam 16:00 tapi karena pekerjaan yang mendesak, akhirnya lembur dikit). Tepatnya disebuah warung makan padang, selesai andri melahap makan sore menjelang malam setelah berhujan-hujan dengan jaket yang masih basah, yang kira-kira isi percakapannya seperti ini :
Mbak V3 : “Assalamu’alaikum dek, udah denger kabar Mamah dek?”
ãñÐrî : “Wa’alaikumsalam WarohmatuLLohi Wabarokatuh, belum mbak vit… ada kabar apa ya?”
Mbak V3 : “Mamah kecelakaan dek, pake motor” (terdengar isak tangis)
ãñÐrî : “InnaliLLah… kapan mbak dimana? trus sekarang ada dimana?” (dengan denyut jantung tak terkontrol)
Mbak V3 : “di Nggentan dek, ini sekarang lagi ada di Panti Nugroho” (masih terisak)
ãñÐrî : “Ya Alloh mbak… kok bisa…”
(percakapan terhenti beberapa saat, sama-sama terisak)
ãñÐrî : “Ceritanya gimana mbak?”
Mbak V3 : “Jadi mamah naek motor, ada mobil kijang yang pengen nyalip motor disamping mamah, motor itu boncengan bertiga… mobil kijang nabrak motor tadi yang bonceng bertiga, mamah kejatuhan motor itu” (isak tangis mbak vit semakin terdengar)
ãñÐrî : “Ya Alloh, AstaghfiruLLohaladzim… trus sekarang keadaan mamah gimana? posisi ada dimana sekarang?”
Mbak V3 : “Masih di Panti Nugroho, barusan udah dirontgen beberapa kali, trus mbak vit tanya ke dokternya : “Gimana dok hasilnya?” kata dokternya : “Tangan kanan ibunya retak mbak” mbak vit tanya lagi : “Retak dok? tapi cuma retak biasa kan? separah apa dok?” kata dokter : “Biasa gimana? ini ga bisa dibilang biasa ini! wong hampir puthul gini!”" (isak mbak vit terdengar lagi)
(percakapan terhenti lagi)
ãñÐrî : “Ya Alloh mbak… trus gimana? tapi mamah masih sadar kan? ada luka lain nggak mbak?”
Mbak V3 : “Mamah masih sadar dek, ngobrol juga masih lancar… yang luka kaki kanan lecet, tangan kiri jari-jarinya juga lecet”
(percakapan terhenti lagi)
Mbak V3 : “Trus kacamata mamah juga pecah dek, Ya Alloh… tapi untung mata mamah ga kena pecahan kaca, trus bibir bagian atas ada luka sedikit… tapi cuma dikit”
(percakapan terhenti lagi)
ãñÐrî : “Trus penanganan dokter udah apa aja mbak? Keluarga Jakarta udah ada yang ngabarin belum?”
Mbak V3 : “Baru diobati yang luka-luka dek, kalau untuk tangan yang retak kalau disini harus nunggu dokter specialist tulang dulu, adanya hari Jum’at, mbak vit belum ngabari siapa-siapa baru adek aja”
ãñÐrî : “Waduh kok gitu sih mbak, musti nunggu-nunggu gitu… ya udah mbak vit yang penting konsentrasi ke mamah dulu, biar keluarga Jakarta adek yang ngabarin, usahain langsung ditanganin ya mbak, jangan nunggu dokter itu aja”
Mbak V3 : “Ya udah dek, doain ya mudah-mudahan mamah ga papa”
ãñÐrî : “Iya mbak, InsyaAlloh…”
Mbak V3 : “Assalamu’alaikum…”
ãñÐrî : “Wa’alaikumsalam warohmatuLLohi wabarokatuh…”
Ngga kerasa air mataku pada waktu itu udah ngalir deras, orang-orang yang ada diwarung itu mungkin pada heran (soalnya percakapan diatas dilakukan dalam bahasa jogja / jawa). Langsung aja setelah itu bayar makan, langsung pulang ke kostan dalam kondisi masih gerimis dan jaket masih basah.
Setibanya di kostan langsung ambil air wudhlu untuk Sholat Magrib, dalam sujud terselip do’a, “Ya Robbi… berikan yang terbaik untuk ibu hamba, peliharalah beliau dan lancarkanlah proses penyembuhan ibu hamba” dll (agak lupa tepatnya do’a waktu itu) yang jelas air mata ini meleleh lagi, dalam kerendahan diri menyembah Sang Kholiq.
Selesai sholat, langsung menyambar handphone untuk memberi kabar saudara yang mungkin belum dikabari, mencoba merangkai kata-kata agar mereka tidak terlalu shock seperti yang ãñÐrî alamin tadi. Pertama yang ãñÐrî telfon adalah mas Budi, kira-kira begini percakapannya :
ãñÐrî : “Assalamu’alaikum mas”
Mas Budi : “Wa’alaikumsalam, ada apa dek?”
ãñÐrî : “Mmm mas, udah denger kabar dari Jogja belum?”
Mas Budi : “Kabar apa dek? belum kok, beluma ada yang nelpon ngabari apa-apa?”
ãñÐrî : “Gini mas, tadi mbak vit telpon, katanya mamah kecelakaan pake motor… tapi sekarang udah ada di Rs. Panti Nugroho, kabar terakhir yang ãñÐrî denger katanya tangan kanan retak”
Mas Budi : “InnaliLLahi wa inaiLLaihi roji’un… trus keadaan mamah terakhir gimana dek?”
ãñÐrî : “Biar lebih jelas Mas Budi telpon Mas Adi atau mas Rully aja mas, biar lebih jelas… soale adek tadi denger dari Mbak Vit sambil sesenggukan, skalian kabarin sodara-sodara yang di Jakarta ya Mas, pulsa adek blm diisi lagi, dan mungkin kalo mas yang ngomong bisa lebih halus biar ga ngagetin, jangan lupa do’ain mamah ya mas”
Mas Budi : “Ya udah dek, mas mau nelpon ke Jogja dulu… ntar keluarga Jakarta mas yang nelpon, adek sekarang dimana?”
ãñÐrî : “Masih dikostan mas, baru pulang dari kantor kehujanan. Oya mas, ntar kalo mau pulang ke Jogja kabarin adek dulu ya mas, insyaAlloh mau bareng”
Mas Budi : “Ya udah kalo gitu, ya insyaAlloh dikabarin nanti… Assalamu’alaikum…”
ãñÐrî : “Wa’alaikumsalam WarohmatuLLohi Wabarokatuh”
(percakapan dengan Mas Budi Via telpon berakhir)
Setelah itu ãñÐrî kembali membayangkan keadaan bunda (panggilan sayang ãñÐrî kepada beliau) dan air mata ini meleleh lagi (cengeng banget ya? padahal untuk yang namanya nangis terus terang, ãñÐrî paling susah banget… seringnya kalau sedih cuma berasa ngganjel dada ini)
(ãñÐrî malah tertidur dengan sarung yang masih terpakai & handphone masih dalam genggaman)
Terbangun sekitar pukul 00:30 karena bunyi handphone yang ada digenggaman, pas dilihat dengan tingkat kesadaran yang belum sempurna ternyata Mas Budi yang nelpon, percakapannya kira-kira begini :
ãñÐrî : “Assalamu’alaikum mas”
Mas Budi : “Wa’alaikumsalam, ditelpon kok susah bener dek?”
ãñÐrî : “Iya mas, ketiduran tadi… lumayan cape kerja dari pagi sampe sore banget, trus dapet kabar itu”
Mas Budi : “Cuma mau ngasih tau, Mas Budi sekarang ada di Rawasari… katanya tadi kalo mas mau berangkat ke Jogja suruh ngabarin, Mas Budi insyaAlloh pagi ini mau berangkat, kalau mau bareng ke Rawasari aja nanti berangkat dari sini”
ãñÐrî : “Iya mas, bareng aja… adek abis ini siap-siap trus berangkat”
Mas Budi : “Ya, yang penting mas udah ngabarin ya”
ãñÐrî : “Iya mas, makasih ya”
Mas Budi : “Ya sama-sama, Assalamu’alaikum”
ãñÐrî : “Wa’alaikumsalam WarohmatuLLoh Wabarokatuh”
(melihat jam dinding lagi dan tersadar kalau belum sholat isya)
Pas melihat handphone setelah percakapan diatas tadi dilayar kecil itu terdapat tulisan kalau ada belasan panggilan tak terjawab (angka pastinya lupa) setelah dibuka list nya, ternyata saudara-saudara menghubungi + beberapa teman. Setelah membuka panggilan tak terjawab, dilayar masih ada beberapa pesan baru (angka pastinya juga ga inget) pas dibuka juga ada sms dari keluarga dan juga dari temen. Salah satu dari temen adalah kabar bahwa Dadang (temen yang tinggal di Ciampea - Bogor) meninggal dunia, InnaliLLahi wa inaiLLaihi roji’un… sepintas terbayang keceriaan Dadang yang sering banget becanda kalau pas ketemu di Ciampea. Arie (sahabatku, temen kuliah, temen kerja, temen diskusi, dll) telah menuliskannya di Jendela-nya.
Keharuan itu bercampur dengan keharuan yang lebih mendalam (karena belum tau secara pasti keadaan bunda) Yaa Robb… kalau Engkau berkehendak, tak satupun dapat menghalanginya…
Teringat kembali bahwa kewajiban hamba terhadap Robb-nya belum didirikan, langsung ambil wudhu dan mengangkat kedua tangan seraya bertakbir : “Allohuakbar” sebagai bukti pengakuan, keimanan bahwa diri ini sangat kecil dihadapan Sang Kholiq.
Setelah sholat isya langsung berkemas barang-barang untuk dibawa selama di Jogja, memasukkan 2 kaos dan 2 celana kedalam tas, memasukkan kedua charger handsetku dan membawa 3 buku untuk dibaca di perjalanan dan mungkin nanti akan dibaca selama menunggu Bunda di rumah sakit.
Sebelum berangkat sempat menghidupkan PC dan menuliskan Mohon Do’anya untuk ibunda, semoga proses pemulihan Ibunda Tercinta cepat dan lancar, mudah-mudahan diberi kesembuhan oleh Alloh Subhanahu Wata’ala dan diberikan yang terbaik untuknya. Amin, dan sempat membuat tred di plurk.com dll melalui ping.fm
Setelah itu langsung mengeluarkan blacky untuk mengantarkanku ke Rawasari (tempat Mbak Dewi). Perjalanan kesana tarik ulur… maksudnya diantara pengen buru-buru sampai, bercampur dengan kehati-hatian mengingat kondisi pikiran yang campur aduk. Jadi pas bisa konsen, blacky kupacu dengan agak kencang, tapi pas keingetan lagi, gasnya dikendorin lagi.
Sesampainya di Rawasari sekitar jam 03:40 (maklum jalanan Jakarta sepi kalau malem) langsung disambut oleh Mbak Dewi yang belum tidur, beliau berusaha tersenyum dengan menyembunyikan kesedihan. Begitu masuk ke rumah beliau langsung memanaskan air untuk membuatkan secangkir kopi untuk adek bontotnya ini, obrolan pun dimulai… mulai dari kronologis singkat tentang kecelakaan Bunda, sampai ke saran beliau (Mbak Dewi) kepada saudara-saudara yang ditelponnya dalam menyikapi kejadian ini, SubhanaLLoh…
Beberapa waktu kemudian muadzin mengumandangkan seruan agar umat Muslim mendirikan Kewajibannya, kembali mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat subuh sembari mendoakan Bunda lagi agar diberikan yang terbaik oleh Robb Semesta Alam. Sementara Mbak Dewi dan Bulik Yun menyiapkan sarapan untuk disantap sebelum berangkat ke Jogja.
Setelah sarapan, kami berlima : Mas Budi, Mas Indra, Mbak Dewi, Bulik Yun dan ãñÐrî segera berjalan ke depan (Jl. Percetakan Negara) untuk mencari taksi, dan akhirnya memutuskan untuk ke St. Gambir dan menempuh perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Argo Dwipangga.
Selama di Stasiun sempat membuat tred di plurk.com untuk mencatat perjalanan ini dalam sebuah garis waktu di micro blog dan akhirnya ãñÐrî berangkat ke Jogjakarta untuk sebuah Perjalanan Cinta…
____________
*mulai ditulis 14/03/09 pukul 08:18, sementara diakhiri 17/03/09 pukul 02:05 dan insyaAlloh akan bersambung ke Sebuah Perjalanan cinta [part2]…
BismiLLahi aRRohman aRRohim…




BismiLLahi aRRohman aRRohim…
BismiLLah… aRRohman… aRRohim…
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
BismiLLahi aRRohman aRRohim…
BismiLLahiRRohmaniRRohim…